Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

DESIR OMBAK PANTAI SELATAN | PART 1



GAMBAR DESIR OMBAK PANTAI SELATAN | PART 1

Langit biru, awan menggantung berpencar-pencar matahari bulat terang-benderang menyilaukan mata,sorut matahari panas menyayat dengan cahaya berpendar-pendar menimpa permukaan bumi dan laut.

PART 1

Siang,di tengah terik panas matahari pada tepi sebuah jalan,fatamorgana menjelma menjadi bayangan air yang meliuk-liuk,beruap mengalir ke udara di atas badan sebuah ular hitam yang membentang panjang tak bertepi. Seorang pemuda dengan tubuh yang terlihat lunglai berjalan di tepinya. Dengan sebuah Tas Rangsel melekat erat di punggungnya,seperti jiwa manusia yang terkulai memeluk erat mencari kesejukan di tengah teriknya matahari. Gontaian langkah kaki pemuda tersebut tertatih seolah akan kehabisan nafas oleh terbakarnya udara yang panas menyerbunya dari segala arah. Saya harus sampai ke Makassar, di sana saya harus dapat kerja. Ya Allah hamba hanya bisa berserah diri pada taqdir ketenetuanmu.... !. Wajahnya tampak jelas pucat, sepasang matanya menunjukkan kecemasan luar biasa, terus jalan sempoyongan menuju cakrawala.

Siang terik bercermin di bumi,udara menguap dari tanah bercampur terbawa deru angin yang bertiup dari arah laut,menyebar terhembus ke pemukiman penduduk pesisir di selatan bantaeng.

Sebuah rumah besar bercat putih bersih dengan daun jendela yang terbuka mengangan seperti mulut manusia yang menantang angin sepoi yang dating.pada tepinya menyala cat merah mengkilap di sinari cahaya matahari.rumah panggung terbuat dari kayu pilihan,khas bugis Makassar.tangga kayu yang menjulang melengkung tepat dimulut teras sebelum pintu rumah yang menganga.Di bagian depannya memiliki halaman luas,rumput hijau terhampar di atas tanah yang hamper tak terlihat lagi.Berbagai macam tanaman hias yang terawat dengan baik tertata apik di tepi pagar kayu yang mengelilingi rumah milik Puang maman.

Puang maman yang berusia limapuluan merupakan anak Datu Maman yang merupakan Juragan Nelayan di desa tersebut.ia dikenal baik dan berwibawa oleh penduduk sekitar.Ia memiliki beberapa kapal penangkap ikan dan memiliki usaha pelelangan ikan yang cukup besar sehingga banyak mempekerjakan penduduk pada usahanya.

Ia mempunyai putri sematawayang,Sali.seorang perempuan yang memiliki paras cantik dari sebayanya yang ada di kampungnya.Bagi Puang maman,Sali akan menjadi juragan pelanjut usahanya kelak bersama dengan suaminya.walau masih duduk di bangku SMA,puang Maman banyak berharap kelak putrinya akan memiliki suami yang bijak dan tekun agar Sali dan suaminya kelak akan lebih sukses dari dirinya sendiri.

Siang itu,sebuah sedan hitam menepi dan memarkir tepat di halaman rumah Puang maman,Dua orang laki-laki turun dari pintu mobil yang berlawanan sisi,Seorang diantarnya menggunakan setelan jas hitam yang bersih,rapi dengan dasi bercorak kotak hitam menggantung di lehernya.sepatu hitam mengkilap,dengan moncong sedikit agak panjang.setelan yang sangat eksekutif.sementara seorang lagi,tampak masih muda,dengan memakai jeans biru dan kemeja putih panjang bersih,rapi masuk dibalik jeans yang dililit dengan ikat pinggang abu-abu.sepatu yang dikenakan pemuda tersebut juga menyatu dengan setelan serta usianya yang muda. Mereka berdua berjalan menuju tangga milik Puang maman.

Dari atas,pada pintu yang menganga,tampak Puang maman berdiri menatap kedua tamunya dan mempersilahkan naik dan masuk ke rumah.setelah membuka sepatu yang mereka kenakan,kedua tamu itupun menaiki tangga dan masuk ke rumah milik Puang maman.

Di ruang tamu,tampak mereka terlibat pembicaraan yang akrab.sesekali terdengar suara cekekekan tamu dan Puang maman.mereka seakan akrab,bagai sahabt lama yang baru bersua.

Beberapa saat kemudian,seorang peremuan tua dating dan menyuguhkan minuman dan kue-kue kecil yang tesusun rapi di dalam toples kaca.Silahkan diminung,kata perempuan tua tersebut lalu berlalu masuk dan hilang dibalik tirai yang terbentang keemasan di ruang tamu itu.

Beberapa saat kemudian,kedua tamu tersebut pun pamit kepada Puang maman.Kalau begitu puang,kami pamit dulu.semoga pertemuan ini,tidak membutuhkan bebrapa waktu yang lama untuk mewujudkan semuanya.Kata Tamu yang lebih tua tersebut sambil menyalami tangan Puang maman.Puang maman pun hanya menganggunk sambil menatap kedua tamunya.

Belum beranjak tamu itu dari tempatnya,tiba-tiba seorang perempuan muda dengan berseragam sekolah masuk dari balik pintu rumah.Assalamu alaikum,Sani pulang Tetta.seru perempuan tersebut.Waalaikum salam,Jawab puang Maman dan tamu yang muda tersebut.tak sempat melanjutkan pembicaraan puan mamat kepada anaknya,kedua tamu itupun pamit kembali kepada Puang maman dan melangkah keluar rumah untuk pulang.

Sementara itu,Di pesisir pantai,seorang pemuda yang sempoyongan melangkah,masih saja terus bergerak dia atas pasir yang sesekali menenggelamkan kakinya.udara panas dan terik matahari leluasa mnyerangnya dari segala arah.pemudai itu tampak dipuncak kelelahannya.keringatnya jelas membasahi tubuhnya.walau demikian,ia masih memaksakan diri, berjalan mencoba menepi menuju pohon besar dekat sebuah sumur yang berdiri kokoh di belakang rumah warga pesisir.pemuda tersebut akhirnya sampai dengan sisa tenaganya.setelah minum dari sumur warga,iapun mengistirahatkan tubuhnya dan terlelap.malampun turun.

Malam hari.Udara bercampur angin laut,jelas terasa sedikit agak menggerahkan ruang keluarga Puang maman.desir suara ombak sayup-sayup terdengar dari jauh,pun sesekali terdengar suara kendaraan berlalau di jalan raya yang sedikit agak jauh dari rumah Puang maman.

Di ruang keluarga,Tampak Puang maman sedang duduk di sebuah kursi sedang menulis sesuatu di buku hijau besar nan tebal miliknya.sepertinya ia sedang merekap hasil panen dan pelelangan ikannya hari ini.sementara di depan sebuah lemari kayu yang berkaca,istri Puang maman sedang melipat pakaian.Dan Sali sedang membaca buku di dekat kaki ayahnya.

Lampu ruang keluarga menggantung diam seperti matahari yang menyinari tiap sudut ruangan.hanya sesekali terdengar lembar-lembaran buku yang dibaca Sani.Tak beberapa saat kemudian,Ibu Sani membuka suasana.Oh  iya Tetta,yang datang siang tadi itu….bukankan itu puang Sali? Seru ibu Sani sambil melipat pakaian.Oh, Iya.puang Sali dan anaknya.Eee….Siapa lagi namanya anaknya itu.ah..aku lupa.Jawab Puang maman sambil melanjutkan tulisannya.Fatah,namanya fatah tetta.dengan acuh Sani menyela,dan melanjutkan membacanya.Lalu,apa perlua apa mereka dengan keluarga kita tetta?.Balas Ibu Sani,dengan nada sedikit penasaran.beberapa saat kemudian,Puang maman terdiam,ia mnyimpan pulpen yang dipeganginya dia tas buku hijau miliknya.ia memalingkan pandangannya kepada anaknya sambil mnghela nafasnya dalam-dalam.Ibu Sani pun tertuju pandangannya ke wajah suaminya,lalu sesaat ia juga mandangi anaknya yang sedang membaca.

Belum sempat Puang maman memulai berbicara kembali,Sani menguap dan menutup mukanya dengan buku di tangannya sembari merenggangkan kedua tangannya.sesaat kemudia,Sani berdiri dan menyimpan bukunya di rak lemari kecil yang ada di sudut kanannya.iapun berdiri dan menghampiri tettanya.Tetta,Sani tidur duluan.Sambil meraih dan mencium tangan tettanya.begitupun juga kepada ibunya dan berlalu masuk ke kamarnya.kedua suami istri itu hanya tertenggun melihat anaknya.selang beberapa saat itu juga,Puang maman juga berdiri memandangi istrinya.Kalau begitu,aku juga mau istirahat.Tetta sudah lelah.besok masih banyak yang harus tetta kerjakan.sambil melangkah masuk ke kamarnya.tak lama,istrinya pun menyusul setelah menyelesaikan lipatan pakaia-pakaian yang ada.

Bersambung ke PART 2

Lihat Juga :



Posting Komentar untuk "DESIR OMBAK PANTAI SELATAN | PART 1"